Friday, 10 July 2015

Nikmat Yang Sesungguhnya - Part 4, Habis (Inspired by Riskha Fairunnisa)

Cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, tempat, maupun kejadian, itu hanyalah kebetulan semata

WARNING: Tidak disarankan untuk membaca fanfict ini bagi yang berusia di bawah 18 tahun



Saat Menjelang Kelahiran Bayi Pertama

Usia kehamilan Ikha sudah mencapai sembilan bulan. Ikha pun mulai merasakan kesakitan pada perutnya. Boy, suami Ikha, masih menjalani rutinitasnya di kantor. Sementara itu, Ikha sedang ada di rumah tiba-tiba menerima telepon dari Ibunya. Ibunda Ikha pun rindu dengan anaknya setelah sekian lama tak bertemu karena Ikha sudah hidup bersama dengan Boy di rumah yang baru.

Ikha: (mengangkat telepon) "Assalamu`alaikum Bu,"

Ibunda Ikha: "Wa`alaikumussalam. Kamu gimana kabarnya nduk di sana?,"
Ikha: "Alhamdulillah Baik Bu. Ibu di sana juga baik-baik aja kan?," (jawabnya sambil menahan perih)
Ibunda Ikha: "Ibu juga baik-baik aja kok. Terus sekarang kamu udah hamil belum?,"
Ikha: "Iya Bu, Ikha sekarang lagi hamil, bentar lagi dah mau melahirkan,"
Ibunda Ikha: "Ibu doain semoga persalinannya lancar ya nduk. Kalau gitu, Ibu pamit dulu ya. Assalamu`alaikum,"
Ikha: "Wa`alaikumussalam,"

Beberapa jam kemudian, Boy pulang dari kantornya dan segera menemui istrinya di rumah. Sesampai di rumah, Ikha terlihat semakin kesakitan dan ingin segera melahirkan. Lalu Ikha meminta Boy agar ia dirujuk ke rumah sakit.

Ikha: "Sepertinya bayi kita udah mau lahir, Mas. Tolong Mas ke rumah sakit sekarang,"
Boy: "Iya sayang, bentar lagi Abang anterin ke rumah sakit. Aku mandi dulu ya,"
Ikha: "Ya, tapi yang cepet ya, perutku udah sakit-sakitan Mas,"

Boy pun lalu bergegas mandi dan berganti pakaian. Kemudian Boy bersegera mengantarkan Ikha ke rumah sakit dengan mengemudikan mobil Honda HR-V miliknya. Setelah mobilnya diparkir, Boy dan Ikha langsung segera menuju ruang UGD, kemudian petugas rumah sakit itu langsung bergegas membawa Ikha ke ruang persalinan.

Hanya butuh waktu beberapa menit saja, akhirnya Ikha sukses melahirkan bayi pertamanya dari hasil hubungan badan yang dilakukan dengan Boy. Bayi mereka berdua pun lahir dengan sehat dan memiliki berat badan normal, dan Ikha pun melahirkan bayi yang ternyata berjenis kelamin laki-laki itu dengan selamat. Saat melihat tangisan bayi itu, Boy tiba-tiba meneteskan air matanya karena teringat saat ibunya bertaruh nyawa ketika akan melahirkan dia. Lalu Boy pun mengadzani bayinya ke telinga kanannya dan mengiqamahi ke telinga kirinya.

Pada hari ketujuh kelahiran bayi mereka, Boy pun memutuskan memberi aqiqah dengan dua ekor kambing. Lalu Boy dan Ikha pun sepakat memberi nama bayi itu dengan nama lengkap Muhammad Iqbal Fanani yang kemudian dipanggil Iqbal.

Untuk merawat agar bayinya tetap sehat, Ikha memberikan nutrisi untuk Iqbal berupa ASI eksklusif selama dua tahun agar tumbuh kembang Iqbal dapat berjalan dengan baik. Tak cukup itu saja, Boy dan Ikha juga berikan nutrisi rohani Iqbal dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an agar kelak dia menjadi anak yang sholeh.

2 Tahun Setelah Kelahiran Bayi Pertama

Iqbal pun akhirnya bisa menjadi anak yang normal. Ikha pun merasa senang dan puas atas hasil menyusuinya selama dua tahun. Boy dan Ikha pun mencoba mengajak Iqbal bermain di luar rumah dan mencarikan lingkungan teman bergaul yang baik. Iqbal pun juga diajarkan mengaji agar nantinya bisa menjadi manusia yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara.

Di suatu malam, Boy kembali berpikir untuk memiliki momongan lagi. Lalu Boy bertekad untuk menghamili Ikha yang kedua kalinya. Lalu Boy pun mengajak Ikha untuk tidur dalam satu ranjang dan dengan pintu kamar tidur yang tertutup rapat, setelah Iqbal tertidur pulas dalam kamar yang berbeda.

Lalu Boy pun langsung bertelanjang bulat. Sementara itu Ikha sedikit merasa geli ketika dalam tidurnya, ia tanpa disengaja memegang penis Boy.

Ikha: "Loh, kamu kok telanjang gini Mas?," (tangannya sambil memegang penis Boy)
Boy: "Tumben kamu kok pegang-pegang punyaku. Aku malah jadi tambah bergairah buat punya anak lagi," (Boy pun terangsang dan air maninya keluar)
Ikha: "Tapi aku kayaknya belum siap nih Mas," (Ikha merasakan cairan sperma di pakaiannya)
Boy: "Aku malah pengen banget bikinnya, ayo dah kamu nurut Abang ajah,"
Ikha: "Aku nurut Mas, biar kamu puas-puasin buat ML lagi,"

Penis Boy makin membesar setelah dipegang oleh Ikha, dan secara tidak sengaja air mani terciprat dari penis Boy saking tegangnya dan membasahi pakaian Ikha. Lalu Boy pun tengkurap di atas tubuh Ikha dan mengunci badan Ikha dengan rapat. Kemudian Boy pun makin berani untuk menarik rok dan celana dalam yang dikenakan Ikha secara pelan-pelan hingga lepas. Penis Boy pun semakin besar dan keras, lalu Boy pun memasukkan penisnya ke dalam vagina Ikha secara hati-hati hingga mengeluarkan cairan sperma.

Boy: "Ikeh ikeh ikeh ikeh kimochi kimochi kimochi (crot crot crot crot crot crot)," (dengan suara mendesah sambil menyemprotkan spermanya)
Ikha: "Aduh Mas, enak banget basah-basah gini. Pengen lagi," (suaranya mendesah)
Boy: "Ahhh ahhhh ahhhh ahhh ahhh ahhh ahhh ahhh ahhh (crot crot crot crot crot crot)," (Boy menyemprotkan maninya lagi ke vagina Ikha)
Ikha: "Ahh enak akhh enaakkk," (semakin mendesah)
Boy: "Oh yesss oh yesss oh yesss oh yesss oh yessss (crot crot crot crot crot crot crot)," (Boy makin bergairah memasukkan spermanya ke vagina Ikha sambil memegang penisnya)
Ikha: "Ahhhhh aduh Mas, terusin Mas, aku pengen lagi Mas," (semakin mendesah)

Masih belum puas juga, Boy masih terus melanjutkan hubungan intimnya dengan Ikha. Boy berkali-kali menyemprotkan cairan spermanya ke vagina Ikha dengan penuh kenikmatan birahi, hingga badan Ikha menjadi lemas tepat di saat Boy mengalami orgasme.

10 Tahun Kemudian

Kedua anak Boy dan Ikha akhirnya tumbuh besar. Anak pertama dan kedua mereka semuanya berjenis laki-laki dan sama-sama telah duduk di bangku SD. Mereka adalah Iqbal dan Zul.

Di suatu pagi, dua anak laki-laki itu hendak berangkat sekolah. Mereka berdua berpamitan dengan ibunya dan ayahnya mengantarkan kedua anak itu untuk bersekolah dengan mobilnya.


Iqbal dan Zul: "Mama, aku mau berangkat sekolah. Papa juga mau berangkat kerja," (lalu mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian)
Ikha: "Belajar yang rajin ya Nak, biar kamu tambah pinter dan jadi orang sukses,"
Boy: "Ayo kita berangkat,"
Iqbal dan Zul: "Yuukkkk," (langsung bergegas menaiki mobil)


Dan pada akhirnya mereka hidup dengan bahagia dan sejahtera. Hampir tidak ada masalah yang begitu serius di antara Boy dan Ikha selama menjalani rumah tangga mereka, hingga akhir hayatnya.


== THE END ==

1 comment: